Wednesday, September 16, 2015

DUBAI, KOMPAS — Pemerintah Indonesia dan pengelola Pelabuhan Dubai menyepakati pengembangan Bagansiapi-api. Kesepakatan dicapai setelah Presiden Joko Widodo mengunjungi lokasi Dubai Port, Dubai, Uni Emirat Arab, Senin (14/9) siang. Sultan Ahmed bin Sulayem, Chairman Dubai Port World, mengaku tertarik mengembangkan Pelabuhan Bagansiapi-api di Provinsi Riau. Untuk menajamkan kerja sama itu, pihak Dubai Port akan mengirim tim melihat lokasi Pelabuhan Bagansiapi-api. "Kami ingin melakukan survei, apa keunggulan lokasi itu. Kami juga akan menggali industri penunjang apa yang bisa dikembangkan di sana," kata Sultan Ahmed bin Sulayem, saat mendampingi Presiden Joko Widodo, seperti dilaporkan wartawan Kompas, Andy Riza Hidayat. Dubai Port merupakan pelabuhan terbesar di Uni Emirat Arab. Pelabuhan ini terhubung dengan jaringan logistik di seluruh dunia. Dubai Port juga memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun. Karena alasan itu, Presiden menginginkan agar pengembangan pelabuhan mengadopsi Dubai Port. "Konsepnya tidak jauh berbeda, yang penting ada efisiensi biasa pembangunan dan pengelolaan," kata Jokowi. Hal ini relevan dengan komitmen pihak Dubai Port melakukan penghematan anggaran pembangunan sebesar 20 persen. Jika efisiensi, biaya logistik menjadi semakin murah, sehingga berpengaruh pada harga di pasaran yang murah. "Dampaknya akan ke masyarakat juga," kata Jokowi. Sebelumnya, kerja sama dengan Dubai Port sudah dikembangkan di Pelabuhan Peti Kemas Surabaya. Presiden menginginkan kerja sama serupa dilanjutkan untuk pengembangan Bagansiapi-api. Oleh karena itu, pemerintah menyiapkan kunjungan ke Dubai Port jauh hari sebelumnya. Presiden mengatakan, dua pekan ke depan, pemerintah akan melanjutkan pembicaraan rencana kerja sama ini. Setelah ada survei lokasi dari dua pihak, pemerintah segera memutuskan pembangunan proyek itu. content Kerja sama BUMN Presiden membuka kemungkinan kerja sama dengan BUMN (badan usaha milik negara) atau dikerjakan sendiri pihak swasta Uni Emirat Arab. Hal yang terpenting, proyek seperti ini tidak boleh ditunda terlalu lama. Sebab, Indonesia sebagai negara kepulauan membutuhkan sarana pelabuhan yang memadai. Presiden mengakui bahwa pengembangan pelabuhan selama ini terlambat. Karena itu, perlu keputusan cepat untuk mengembangkan potensi nasional. Senin kemarin, Presiden selain melihat lokasi penyimpanan peti kemas, juga meninjau ruang kendali operasi pelabuhan. Sepanjang peninjauan, Presiden menyimak dan beberapa kali bertanya soal pengelolaan kepada Sultan Ahmed bin Sulayem. Aluminium Tidak jauh dari lokasi itu, Presiden meninjau tempat pengolahan aluminium yang dikelola Emirates Global Aluminium. Menurut Presiden, kerja sama pengolahan aluminium sangat memungkinkan karena potensi untuk mengolahnya besar. Senada dengan itu, Abdulla JM Kalban, Managing Director Emirates Global Aluminium, akan merealisasikan kerja sama itu. Menurut Abdulla, peluang kerja sama itu terbuka lebar. Selain memiliki potensi sejumlah bahan tambang, Indonesia juga memiliki pengalaman dalam pengolahan aluminium.

No comments:

Post a Comment

Reminder Corporate Action

Reminder Corporate Action Jumat, 7 Desember  2018 1. Public Expose: PNBS, PTIS 2. Cum Date Right Issue: IKAI 66 saham lama akan mendap...